Terkait Penghapusan UN 2020 Pandemi Covid-19

Terkait Penghapusan UN 2020 Pandemi Covid-19


 BERITATOTOKITA.INFO -   Ujian Nasional atau UN 2020 resmi ditiadakan. Hal ini dilakukan

demi pencegahan penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19.

Penghapusan UN 2020 ini juga hasil kesepakatan antara DPR dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Dari hasil rapat konsultasi DPR dan Kemendikbud, disepakati bahwa pelaksanaan UN SMP dan 

SMA ditiadakan untuk melindungi siswa dari Covid-19," ujar Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda 
dalam keterangannya di Jakarta.

Selain itu, keputusan peniadaan UN 2020 merupakan keputusan Presiden Joko Widodo atau 

Jokowi. Keputusan tersebut diambil Jokowi untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19.

Mendikbud Nadiem Makarim pun angkat bicara. Menurut mantan CEO Gojek itu, setidaknya ada dua alasan penghapusan UN 2020.

Berikut 5 hal terkait penghapusan [UN 2020](kemendikbud "") di tengah pandemi virus corona Covid-19

Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Syaiful Huda mengatakan DPR dan 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sepakat pelaksanaan Ujian Nasional 

atau UN 2020 ditiadakan untuk melindungi siswa dari Covid-19.

"Dari hasil rapat konsultasi DPR dan Kemendikbud, disepakati bahwa pelaksanaan UN SMP dan 

SMA ditiadakan untuk melindungi siswa dari Covid-19," ujar Syaiful Huda dalam keterangannya di Jakarta.

Kesepakatan itu didasarkan atas penyebaran Covid-19 yang kian masif. Padahal, jadwal UN SMA 

harus dilaksanakan pada 30 Maret 2020, begitu juga UN SMP yang harus dijadwalkan paling lambat akhir April mendatang.

"Penyebaran wabah Covid-19 diprediksi akan terus berlangsung hingga April, jadi tidak mungkin 

kita memaksakan siswa untuk berkumpul melaksanakan UN di bawah ancaman wabah Covid-19, 

sehingga kami sepakat UN ditiadakan," ujar dia.

Huda mengatakan, saat ini Kemendikbud mengkaji opsi pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar 

Nasional (USBN) sebagai pengganti UN.

Kendati demikian, opsi tersebut hanya akan diambil jika pihak sekolah mampu menyelenggarakan USBN dalam jaringan (daring).

"Kami sepakat bahwa opsi USBN ini hanya bisa dilakukan jika dilakukan secara daring, karena 

pada prinsipnya kami tidak ingin ada pengumpulan siswa secara fisik di gedung-gedung sekolah," ujar dia.

Jika USBN via daring tidak bisa dilakukan, maka muncul opsi terakhir, yakni metode kelulusan 

akan dilakukan dengan menimbang nilai kumulatif siswa selama belajar di sekolah.

Untuk tingkat SMA dan SMP, maka kelulusan siswa akan ditentukan melalui nilai kumulatif 

mereka selama tiga tahun belajar. Pun juga untuk siswa SD, kelulusan akan ditentukan dari nilai kumulatif selama enam tahun mereka belajar.

"Jadi nanti pihak sekolah akan menimbang nilai kumulatif yang tecermin dari nilai rapot dalam 

menentukan kelulusan seorang siswa, karena semua kegiatan kurikuler atau ekstrakurikuler siswa 

terdokumentasi dari nilai rapor," kata dia.







Share on Google Plus

About BERITATOTOKITA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Terkait Penghapusan UN 2020 Pandemi Covid-19 | Berita Hangat Totokita - Berita Hangat Totokita