Lockdown di Pulau Surgawi Spanyol

Merasakan Lockdown di Pulau 'Surgawi' Spanyol


 BERITATOTOKITA.INFO - Saya seorang warga Indonesia yang sedang menetap di Pulau Mallorca, Kepulauan Baleares, Spanyol. Sebelumnya menempuh pendidikan master di Universidad de Jaén, Jaén pada 2017-2019.

Pulau Mallorca tak kalah populer dibandingkan Pulau Menorca dan Pulau Ibiza. Pasir putih dan air laut seakan biru turkis juga menjadi pemandangan utama di sini.

Namun keriaan turis di Pulau Mallorca harus usai setelah wabah virus corona COVID-19 mulai menyambangi Spanyol.
Pada Kamis (12/3) pagi, saya masih berada di Manacor dan Artà, Pulau Mallorca untuk memenuhi panggilan wawancara di kedua lokasi tersebut. Sebelum menyambangi kantor perusahaan, saya menyempatkan diri membeli minum di supermarket.

Pukul 09.30 pagi, ternyata sudah banyak warga antre membeli kebutuhan pokok seperti makanan, air mineral, dan tisu. Berita mengenai isu kedatangan virus corona di Spanyol membuat sebagian warga di sini mulai panik berbelanja.
Pemandangan serupa sudah saya lihat sejak Selasa (11/3), namun belum separah hari Kamis. Pasalnya, hari itu terdapat berita bahwa kapal pesiar asal Italia bermuatan 3.000 orang menepi di Pelabuhan Palma de Mallorca. Belum lagi jumlah pasien positif corona di Kepulauan Baleares mencapai 21 kasus.

Kemudian malam harinya, ketika hendak membeli beberapa makanan di supermarket dekat rumah, saya takjub melihat rak-rak telah kosong. Daging ayam, sapi, air mineral, pasta, makanan beku, sayur, dan buah, semuanya ludes terjual.
Meningkatnya angka kasus positif virus corona di Kepulauan Baleares membuat pemerintah setempat mengeluarkan beberapa kebijakan demi membatasi penyebaran virus.

Misalnya, tidak boleh menyelenggarakan kegiatan sosial yang melibatkan lebih dari 1.000 orang. Bar, restoran, diskoteka, dan café diminta untuk tutup.

Tentunya ini berdampak besar terhadap kegiatan ekonomi di Pulau Mallorca, karena tempat tersebut banyak dikunjungi warga lokal maupun turis. Area yang terkenal akan pesta dan klub ramai turis seperti Palma de Mallorca, Calvià, dan Magaluf.

Beberapa kota kecil di Pulau Mallorca yang tersohor dengan festival budaya dan pasar tradisionalnya; Marratxí, Binissalem, Sóller, dan Estellencs, ikut membatalkan acaranya tahunannya.

Merasakan Lockdown di Pulau 'Surgawi' Spanyol

Rentetan seremoni perayaan Paskah yang akan digelar bulan April pun juga ditiadakan. Padahal acara-acara demikian digelar tiap tahun dan merupakan salah satu magnet kedatangan turis di pulau ini.

Kegiatan di sekolah dan universitas di wilayah Kepulauan Baleares juga akhirnya ditutup sementara mulai Senin (16/3) hingga waktu yang belum ditentukan.

Kursus di beberapa institusi turut ditunda meskipun ada kelas yang berlangsung secara online.

Melihat perkembangan kasus virus corona di Pulau Mallorca, saya bersama host family di Bunyola memutuskan untuk melakukan social distancing sejak Jumat (13/3).

Kami berupaya tidak tertular oleh virus, apalagi kami tinggal bersama satu anak kecil yang baru saja pulih sakit.

Kami juga sadar bahwa menjaga jarak dan menjauhi area publik memiliki peran penting dalam menurunkan penyebaran virus.

Penguncian di seluruh wilayah Spanyol
Pada Sabtu (14/3) malam,(penguncian) di seluruh wilayah Spanyol, termasuk Kepulauan Baleares, Canarias, dan area Ceuta.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez menetapkan el estado de alarma (state of alarm/status alarm) untuk menekan penyebaran virus corona, karena angka kasus positif dan kematian semakin meningkat.

Artinya dalam situasi ini, warga wajib menetap di rumah. Aktivitas sekolah, bisnis, dan toko ditutup, kecuali supermarket, apotek, dan optik.

Izin keluar diberikan bagi mereka yang bekerja di sektor transportasi publik, serta perawat bagi orang tua atau yang berkebutuhan khusus.
Selain kondisi yang telah disebutkan, warga hanya diperbolehkan keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok, pergi ke rumah sakit, atau berkeliling sebentar di dekat rumah dengan anjing peliharaan.

Spanyol merupakan negara ketiga dengan kasus terbanyak setelah Italia. Bayangkan, hingga Jumat (20/3) malam jumlah orang yang positif virus corona di Negara Matador ini sudah mencapai 21.571, sementara jumlah yang meninggal dunia sudah mencapai 1.093.

Sementara itu di Kepulauan Baleares, tercatat 203 kasus positif virus corona dan 4 orang meninggal dunia.

Meskipun saat ini sudah ada penguncian, besar kemungkinan angka tersebut masih terus naik.
Cara terbaik untuk menekan penyebaran virus yakni dengan menetap di rumah, menghindari aktivitas tatap muka dengan teman atau keluarga, rajin mencuci tangan, dan menjaga kesehatan sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Bisa dibilang saya beruntung tinggal di kota kecil dan jarak antarrumah cukup jauh, sehingga penguncian menjadi lebih mudah.

Di sisi lain, saya sedih harus membatasi interaksi langsung dengan teman-teman di sini, namun kami saling menyemangati satu sama lain via pesan elektronik.

Demi menyelamatkan orang-orang di sekitar yang bisa jadi berpotensi terjangkit virus corona, saya menetap di rumah.

Meskipun hanya bisa beraktivitas di rumah, semangat warga Spanyol sejak awal penguncian tampak tak luntur. Saya memantau bagaimana warga di sini aktif mengampanyekan tagar #yomequedoencasa (#sayamenetapdirumah) atau #quédateencasa (#tetapdirumah) agar warga lainnya tidak berpergian ke luar rumah.

Kemudian ada beberapa musisi yang menyelenggarakan "konser" mini melalui Instagram Live, disaksikan oleh ribuan pengguna, khususnya di Spanyol.

Selain itu, di kota lain seperti Sevilla misalnya, terdapat video yang menampilkan beberapa warga melakukan olahraga bersama dari balkon apartemen masing-masing.

Bahkan mereka juga bermain BINGO bersama meskipun berjarak cukup jauh dari satu apartemen ke apartemen lainnya.

Solidaritas dan apresiasi

Solidaritas amatlah penting demi bertahan melewati masa sulit ini. Sebagai contoh di grup Facebook penduduk di Mallorca, ada beberapa orang yang menawarkan jasa gratis belanja kebutuhan pokok kepada warga berusia lanjut atau yang memiliki akses terbatas untuk membeli stok makanan.

Aksi ini tentunya sangat mulia, melihat penguncian ini berdampak cukup berat bagi sebagian orang yang berusia lanjut atau memiliki keterbatasan.

Selain itu, sebagian warga di beberapa kota serentak memberi aplaus dari rumah masing-masing kepada petugas medis, karyawan supermarket, dan petugas apotek. Aksi ini sebagai wujud apresiasi terhadap perjuangan mereka yang berada di garda depan demi melayani kebutuhan masyarakat.

Di masa penguncian ini, sudah bukan saatnya untuk menganggap remeh isu virus corona. Jujur saya tidak takut, namun saya waspada akan virus tersebut. Saya masih berusia muda dan sehat namun tidak ingin menjadi risiko bagi orang lain.

Menetap di rumah bukan hanya sebagai wujud tanggung jawab kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang-orang di sekitar yang kesehatannya dapat terancam. Seperti kata pepatah di Indonesia, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Semoga badai COVID-19 segera berlalu.

Share on Google Plus

About BERITATOTOKITA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Lockdown di Pulau Surgawi Spanyol | Berita Hangat Totokita - Berita Hangat Totokita