Rokok Vs rokok elektrik



BERITATOTOKITA.INFO - Polemik rokok masih terus mengemuka. Merokok menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, kanker, dan lainnya. Hal tersebut menyebabkan banyak orang yang berusaha berhenti merokok.

ada cara yang bisa membantu mereka melakukannya, salah satunya adalah rokok elektrik. Namun sayangnya di Indonesia penelitian mengenai rokok elektrik masih sangat sedikit dan tidak berasal dari sumber yang dapat dibuktikan secara metodologis.

Rokok elektrik memiliki dampak negatif bagi pengguna, tanpa manfaatnya sebagai medium terapi berhenti merokok. Hal tersebut disayangkan karena masyarakat sudah mengetahui dampak buruk dari rokok konvensiona , namun tidak mengetahui bagaimana cara mencegahnya menggunakan rokok elektrik.

Penelitian mengenai rokok elektrik dapat dilakukan dengan metode yang lebih tepat, seperti penelitian uji emisi aldehid dari rokok elektrik di laboratorium, sebaiknya dilakukan dengan kondisi yang sesuai dengan yang digunakan oleh vaper.

Ada beberapa penelitian yang memakai kondisi vaping yang bertolak belakang dengan kondisi nyata, contohnya alat vaping generasi 1 atau 2 yang sudah tidak dipakai lagi, suhu yang terlalu panas sehingga menyerupai pembakaran, interval puff atau isapan yang terlalu dekat waktunya dan cairan yang digunakan melebihi jumlah konsumsi per hari, sehingga menghasilkan emisi aldehid yang tinggi.

“Peneliti melakukan observasi dahulu pada pengguna vape, bagaimana kebiasaan dan kondisi apa yang tepat yang bisa disimulasikan sehingga mendekati kondisi nyata penggunaan vaping, 

Studi yang dilakukan di Inggris tersebut dimulai pada April 2015 dan berakhir pada Maret 2018. Penelitian ini bertujuan melihat tingkat pantang yang tervalidasi secara biokimia selama 12 bulan pada perokok yang menggunakan rokok elektrik dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin (NRT).

Partisipan penelitian berjumlah 886 orang yang berusia 18 tahun ke atas dan merupakan perokok aktif yang sedang mengikuti program berhenti merokok.

Peneliti membagi separuh dari total partisipan untuk menggunakan rokok elektrik, dan separuhnya lagi menggunakan produk pengganti nikotin (seperti nicotine patch dan permen karet nikotin). Semua partisipan studi mendapatkan layanan konseling individual setiap minggu selama empat minggu.

Setelah setahun, pengurangan rokok akan terbukti dengan mengukur banyaknya karbon monoksida yang dihirup. Hasil temuan pertama dari penelitian itu adalah 18 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun, dan hanya 10 persen yang menggunakan NRT berhenti merokok.

Dari total orang yang sukses berhenti merokok tersebut, 80 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik masih menggunakan vape, dan hanya 9 persen pengguna NRT tetap menggunakan produk tersebut.  Yang tak kalah menarik, laporan batuk dan adanya dahak lebih rendah pada partisipan yang menggunakan rokok elektrik.

Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa rokok elektrik lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin. Namun hal tersebut harus disertai dengan tindakan pendukung seperti konseling agar memiliki dampak yang maksimal.

Share on Google Plus

About BERITATOTOKITA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Rokok Vs rokok elektrik | Berita Hangat Totokita - Berita Hangat Totokita