Kopi Gayo Terancam Anjlok, Ini Alasannya

                                            Kopi Gayo Terancam Anjlok, Ini Alasannya


BERITATOTOKITA.INFO  - Aceh - Citra arabika Gayo menjadi sorotan. Salah satu perusahaan pengekspor membeberkan adanya

pemutusan akad yang dilakukan calon pembeli dari tiga negara.

Kontrak dibatalkan calon pembeli asal Eropa; Jerman, Inggris, dan Perancis, usai hasil uji

laboratorium mengungkap sampel yang dikirim mengandung glifosat.

Glifosat adalah herbisida berspektrum luas yang terkandung dalam racun pengendali gulma.

Adalah Rahmah, eksekutif Ketiara Grup, mengaku mengirim sampel kopi konvensional nonsertifikat

yang dibeli acak dari sejumlah petani atau pedagang lokal melalui perusahaannya. Dari tiga sampel

yang dikirim, semuanya diklaim mengandung zat kimia berbahaya.

"Akhir-akhir buyer minta kopi bersertifikat glifosat. Daripada kopi dikembalikan, nama baik kita

jelek, ya sudah, gagal saja kontraknya,"

Syarat kopi impor yang steril dari glifosat berlaku ketat di tiga negara tersebut. Namun, pengiriman

untuk negara, seperti, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, disebutnya masih belum ada

hambatan hingga saat ini.

"Tetap jalan. Kemarin baru mengirim dua kontainer," sebut dia.

Menurut Rahmah, fakta sampel kopi mengandung glifosat terpaksa diungkap ke publik dengan

harapan petani lokal mengubah pola pengendalian gulma.

Integritas arabika Gayo yang biasanya tinggi di antara kopi-kopi berkaliber dunia terancam anjlok jika petani menaruh acuh.

Glifosat mengontaminasi melalui racun pembasmi rumput. Senyawa kimia yang ada di dalam

herbisida dapat meresap melalui tanah di sekitarnya sekalipun disemprot di luar areal kebun.

Efek Glifosat


Sebagai catatan, penggunaan kandungan glifosat sudah lama menjadi topik pembicaraan di kancah

Uni Eropa. Kampanye antiglifosat kerap disuarakan aktivis lingkungan.

Ada momok yang tersembunyi di dalam zat tersebut. Studi Badan Penelitian Kanker Internasional di

bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 mengungkap bahwa glifosat merupakan

karsinogenik yang bersifat menyebabkan kanker.

Rekomendasi Komisi Eropa menyetujui penggunaan herbisida selama satu dekade ke depan pun

dikecam. Eskalasi penolakan telah melahirkan usulan mengurangi jangka waktu penggunaan

herbisida dari sepuluh tahun menjadi lima tahun pada 2015 lalu.

Rahmah berharap ada intervensi pemerintah dalam masalah ini. Harus ada gebrakan serius sehingga

pola pengendalian gulma yang masih memanfaatkan herbisida di kalangan petani berubah.

Bagi Rahmah, ini penting. Sedikit banyak nama baik arabika Gayo yang kesohor di mata

internasional lambat laun tercoreng jika para pihak menilai sepele masalah ini.

"Buat pabrik pupuk organik di Takengon atau Bener Meriah. Bagikan ke petani mesin babat, arahkan

petani jangan menyemprot jalan, karena itu mengontaminasi ke kebun kopi," pintanya.

Lebih jauh, ia berharap pemerintah menelurkan qanun terkait. Keberadaan kopi Gayo yang

berkualitas dan tidak berefek buruk bagi kesehatan bisa terjaga di hari depan jika terdapat aturan yang

mengikat dalam taraf kepentingan petani.

"Kimia ini bukan sekarang dampaknya," ucap dia.

Di satu sisi, Rahmah menampik adanya klaim kepentingan yang diumbar sejumlah pihak setelah

dirinya angkat bicara di media. Dalih mengkambinghitamkan kelompok tertentu dipandangnya tidak masuk akal.

Sebagai tambahan, tidak sedikit kalimat miring yang dialamatkan kepada perusahaan yang dipimpin

Rahmah di media sosial. Seorang legislator pun angkat bicara di media dengan nada yang tak kurang menyudutkan.

"Kita mencari solusi bukan mencari kambing hitam. Tidak ada politik tidak ada masalah turun harga.

Sedia payung sebelum hujan. Lebih baik mencegah dari pada mengobati," tegas eksekutif perusahaan pengepul kopi itu.


































Share on Google Plus

About BERITATOTOKITA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Kopi Gayo Terancam Anjlok, Ini Alasannya | Berita Hangat Totokita - Berita Hangat Totokita