Jakarta Kembali Banjir Hampir Diseluruh Titik, Tagar #AniesDimana Ramai di Sosial Media

Hasil gambar untuk banjir jakarta


Berita Hangat Totokita - Jakarta banjir kembali setelah lama tidak pernah tampak pada pemandangan ibukota dikala musim hujan mengguyur.

Menurut data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) banjir yang terjadi di Jakarta pada Jumat, (26/4) kemaren telah menewaskan sedikitnya dua orang warga dan memaksa sebanyak 2.370 orang warga untuk pergi meninggalkan rumahnya yang sedang dihuni oleh air sungai yang meluap.

Banjir di Jakarta kali ini tercatat sebanyak 43 titik, yang dimana terdapat lima titik pada wilayah Jakarta Selatan dan 21 titik lainnya berada pada kawasan Jakarta Timur.

Dengan catatan titik banjir sebanyak ini dan setelah beberapa tahun Jakarta tidak pernah banjir membuat warganet secara berbondong-bondong mempertanyakan kebijakan Gubernur Jakarta Anies Baswedan dalam menanggulangi banjir ini.

Bukan hanya warganet saja, konsep naturalisasi sungai Anies Baswedan yang sebatas konsep sampai dengan saat ini juga dinilai dan di kritik tidak jelas oleh para pengamat tata kota.

Dengan kembali datangnya titik banjir sebanyak ini di Jakarta, media sosial juga diramaikan tagar #AniesDimana dari netizen demi mempertanyakan tugas dan peran Anies selama menjabat menjadi gubernur di Jakarta.

Seperti contoh gambar dibawah ini yang menunjukan beberapa cuitan netizen yang merasa kecewa setelah beberapa tahun tidak merasakan banjir di ibukota


Twitter pesan oleh @willytbk: I haven’t seen this kind of news for few years and now they are back again 🤦🏻‍♂️ #AniesDimana

Lalu netizen yang lain melakukan cuitan dengan tagar #AniesDimana

Twitter pesan oleh @firefly_dewi: #AniesDimana Pak Anies be like

Dan mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama melakukan cuitan yang menghimbau agar masyarakat Jakarta untuk tetap waspada dan mengajak warga untuk tidak melakukan pembuangan sampah secara sembarangan pada akun twitternya.

Twitter pesan oleh @basuki_btp: Kepada warga DKI, harap waspada terhadap banjir. Mari fokus untuk membantu para korban banjir. Dan jangan membuang sampah sembarangan.

Sementara itu Anies berdalih bahwa penyebab banjir kali ini adalah wilayah pesisir, Jakarta dan beberapa kawasan lain seperti Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi menerima debet air yang cukup besar dari wilayah hulu.

Untuk kali ini Anies memberikan masukan kepada pihak hulu agar dapat mengedalikan debet airnya menjadi volume yang lebih kecil.

"Selama volume air dari hulu tidak dikendalikan, maka tinggal giliran aja. Nanti dua tahun lagi tahu-tahu (banjir di) tempat mana, tiga tahun lagi tempat mana. Jadi ini semua terjadi karena volume air dari hulu, ke pesisir tidak dikendalikan," ujar Anies. Ia mengatakan salah satu solusinya adalah pembangunan bendungan Ciawi dan Sukamahi. Proyek ini akan dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Anies mengatakan pembangunan bendungan itu ditargetkan akan selesai pada bulan Desember.
Jika rampung, kata Anies, bendungan tersebut dapat mengendalikan volume air sampai 30 persen.
Sebelumnya, di akun Twitternya, Anies juga menyoroti sampah di sungai.

Twitter pesan oleh @aniesbaswedan: Kemarin volume sampah mencapai lebih dari 170 ton hanya dalam kurun waktu kurang dari 12 jam saja. Pasukan oranye @upk_badanair Dinas LH bekerja terus nonstop sejak pagi hingga malam mengangkut sampah, agar tidak menganggu aliran air.

Bagaimana perbandingannya dengan banjir tahun lalu?

BPBD DKI Jakarta, menyebut sepanjang tahun 2018 terjadi 46 kasus banjir. Akibatnya, satu orang meninggal dunia dan 15.627 warga terpaksa mengungsi. Banjir-banjir tersebut terjadi di 30 kecamatan, 63 kelurahan, dan 217 RW.
Jakarta Barat dan Jakarta Selatan menjadi daerah paling banyak direndam banjir. Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan yang masih menjabat saat itu, banjir tahun 2018 berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sampah



Hal itu, kata Teguh, disebabkan oleh normalisasi sungai yang dilakukan, terutama di daerah langganan banjir. Teguh telah 'distafkan oleh Anies' pada bulan Februari lalu.

Posisi Teguh masih kosong dan dinas tersebut kini dipimpin pelaksana tugas, Yusmada Faizal.

Apa komentar pengamat tata kota?

Pengamat tata kota Yayat Supriatna mengatakan menyalahkan "banjir kiriman" dari kota lain adalah alasan berulang yang kerap digunakan pemerintah daerah saat banjir.

"Itu lagu lama... Itu (banjir) masalah hidrologis, dari hulu sampai ke hilir... Seakan-akan pasrah aja kita dengan kondisi itu," kata Yayat.

Yayat mempertanyakan komitmen Anies dalam mengembalikan fungsi sungai Ciliwung sebagai langkah mencegah banjir.

banjir


Sebelumnya, Anies mengatakan dia akan melakukukan naturalisasi sungai.

Hal itu berbeda dengan konsep normalisasi yang dilakukan pendahulunya Basuki Tjahaja Purnama (BTP).

Namun, menurut Yayat, konsep ini belum jelas.

"Selama ini kan kita bertanya, bagaimana konsep naturalisasi itu? Apakah dalam konsep yang lebih mengedepankan konservasi? Apakah dalam konsep lainnya?" ujar Yayat.

Ia mengatakan, sebetulnya proyek pengembalian fungsi sungai Ciliwung berada dalam kewenangan Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).
Tapi, kata Yayat, pemerintah daerah memegang kunci kelanjutan program itu karena merekalah yang berwenang melakukan pembebasan lahan untuk mendukung kelancaran program itu.
Maka dari itu, Yayat menyarankan Anies untuk berdialog dengan Kemen PUPR terkait konsep naturalisasi yang dimilikinya agar pemerintah pusat dan daerah dapat bersama-sama menyelesaikan masalah ini.
Senada dengan itu, Anggota DPRD Jakarta dari Fraksi PDI-P Yuke Yurike mengatakan penanganan banjir kiriman itu bukan hanya mengandalkan penanganan hulu, tapi harus berbarengan dari hulu ke hilir.
Terkait konsep naturalisasi sungai, Yuke mengatakan program itu membutuhkan lebar lahan di sisi kiri dan kanan sungai sekitar lebih dari 15 meter karena dalam naturalisasi, akan diatur kemiringan tebing sungai dan penanaman dengan pohon pohon agar sungai kembali menjadi natural.
"Persoalannya berani nggak Gubernur Anies merelokasi? Itu salah satu masalahnya," kata Yuke kepada wartawan BBC News Indonesia Rivan Dwiastono.

Apa yang harus dilakukan Anies?

Yayat mengatakan Anies memperkenalkan konsep naturalisasi karena melihat adanya masalah sosial pada program normalisasi yang dilakukan BTP, terkait dengan keputusannya untuk memindahkan penduduk di bantaran kali ke rumah susun sederhana.
Di era BTP, sejumlah pemukiman di bantaran sungai, seperti di Kampung Pulo dan Bidaracina, Jakarta Timur, juga Bukit Duri, Jakarta Selatan, digusur dan warganya dipindahkan ke sejumlah rumah susun di Jakarta.
Kebijakan itu, kata Yayat, menimbulkan masalah di kemudian hari karena banyak dari penduduk itu yang tidak bisa membayar sewa bulanan rusunawa.
"Kalau dulu (zaman BTP), itu sudah pas dalam konteks menormalkan sungai. Tapi yang kurang pas itu pada sisi relokasi warganya, sisi humanismenya itu yang kurang pas," kata Yayat.
Melihat latar belakang itu, Yayat mengimbau Anies untuk melakukan dialog dengan warga di bantaran sungai.

Ia mengatakan Anies harus dengan berani menanyakan pada warga apakah mereka tetap mau tinggal di situ dan menderita banjir setiap tahun atau pindah ke tempat yang lebih baik.
Yayat menambahkan pemerintah daerah harus meyakinkan dan menjamin warga akan direlokasi dengan ke tempat yang kondisinya layak.
Yayat mengatakan Anies perlu bersikap tegas dan berani untuk menyelesaikan masalah banjir Jakarta.
Terkait dengan Dinas Tata Air yang dipimpin seorang PLT, Yayat mengatakan yang lebih krusial adalah ketegasan dari gubernur.
"Itu tergantung pimpinan sih. Persoalan sekarang ini pemimpin daerah menyikapi masalah itu dan mengambil keputusan," ujarnya.








REFFERAL 1.5 UP TO 4%
ayo buruan discount besar besaran
2D: 29%
3D: 59%
4D: 66%
































Share on Google Plus

About BERITATOTOKITA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment

Jakarta Kembali Banjir Hampir Diseluruh Titik, Tagar #AniesDimana Ramai di Sosial Media | Berita Hangat Totokita - Berita Hangat Totokita